Sabtu, 02 September 2017

Menggunakan Dana Desa, Nagari Tiku Selatan Latih Ibu-Ibu Membuat Briket Arang Tempurung.

Oleh : Yosnofrizal*

Bila jeli, Nagari dapat menggunakan dana desa untuk mengoptimal pemanfaatan potensi yang ada di Nagarinya dalam mendorong perekonomiannya warga masyarakatnya. Kejelian ini yang telah dimiliki Pemerintah Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam.

Tahu kalau Nagari itu memiliki tanaman kelapa yang banyak, bahkan termasuk salah satu sentra komoditi kelapa di Sumatera Barat, Pemerintah Nagari Tiku Selatan memakai dana desa mengadakan pelatihan pengolahan limbah kelapa, khususnya pelatihan mengolah tempurung kelapa menjadi arang dan briket sehingga tempurung menjadi komoditi yang bernilai tambah dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pelatihan itu sendiri telah dilaksanakan pada hari Selasa sampai Rabu tanggal 28 — 29 Agustus 2017 lalu dengan peserta ibu - ibu dari Nagari Tiku Selatan. Tidak tanggung-tanggung, yang diundang menjadi Narasumber dalam pelatihan itu Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unand, Ir. Aisman, MS yang juga pengurus Dewan Kelapa Indonesia. Aisman sendiri telah banyak terlibat dalam memberdayakan kelompok masyarakat dalam pengolahan limbah kelapa.

Prospek Limbah Tempurung Kelapa.

Dalam pelatihan itu Ir. Aisman memaparkan kalau kelapa adalah komoditi yang mempunyai banyak nilai tambah. Tidak hanya daging kelapa yang dapat diolah jadi minyak goreng, tapi hampir keseluruhan limbah kelapa jika diolah dapat memberikan nilai tambah yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Mulai dari batang, daun, hingga sabut, air dan tempurung.

Khusus untuk tempurung, katanya, limbah itu bisa diolah menjadi arang dan briket yang bermanfaat untuk sebagai bahan bakar dan bahan pencampur untuk shisa, rokok yang banyak digunakan orang di daerah Arab. "Kalau diekspor ke Arab, maka kebanyakan orang disana dipakai untuk bahan shisa atau rokok orang Arab," ucapnya.

Tidak hanya diolah menjadi arang dan briket, tempurung kelapa juga bisa dibuat jadi asap cair yang berguna untuk bahan pengawet, baik pengawet kayu ataupun makanan. Tentu sesuai dengan kualitas asap cair yang dihasilkan karena ada asap cair yang hanya boleh digunakan untuk pengawet kayu, ada yang kualitas bisa dipakai untuk pengawet ikan segar bahkan bakso.

Dan menariknya lagi, biaya pembuatan briket juga tidak terlalu besar sehingga kalau dibandingkan dengan nilai penjualan cukup menguntungkan. saat ini harga ekspor briket per tonnya tidak kurang 900 dollar atau sekitar 10 juta rupiah, atau perkilonya sebesar 10 ribu rupiah.
Sementara biaya yang dibutuhkan untuk membuat arang hingga menjadi briket tidak banyak. Dalam skala sederhana, pengolah hanya memerlukan biaya untuk membeli drum, tepung kanji dan tempurung. Drum diperlukan sebagai media pembakaran, tepung kanji untuk perekat. " Paling banyak habis 300 ribu rupiah, untuk membeli Drum bekas"ulasnya. Itupun drum bisa diganti dengan menggali tanah sebagai wadah pembakaran.

Untuk pemasaran, selain untuk memenuhi kebutuhan ekspor, pasar lokal pun masih cukup besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan restoran yang membutuhkan briket sebagai bahan bakar. ""Keunggulan briket adalah kalorinya yang lebih besar dari bahan bakar lain, termasuk gas,"tambahnya.

Briket mudah dibuat.

Membuat briket  tidaklah sulit. Malah bisa dikatakan sangat mudah. Bahan dan alat yang diperlukan sederhana dan semua itu bisa didapatkan di sekitar lingkungan. Selain drum bahan lain yang diperlukan adalah pelepah batang pisang, tepung kanji untuk perekat, pengayak dan paralon yang telah dipotong sebagai media pencetak briket.

Pertama yang harus disediakan adalah media pembakaran. Media pembakaran bisa memakai drum bekas yang tidak berlubang. Kalau tidak drum, bisa juga dengan membuat lubang di tanah. Tapi kalau ingin yang lebih bagus dengan kapasitas besar dapat dengan membuat tungku khusus dengan bahan penutup dari asbes.

Setelah ada media pembakaran, selanjutnya tempurung dimasukan ke dalam media pembakaran sesuai dengan kapasitas media dan dibakar. Setelah api membesar dan tidak mungkin padam lagi, media perlahan ditutup sampai tidak ada asap yang keluar.

Mengapa sampai asap tidak yang keluar, karena keluarnya asap adalah penanda masih adanya oksigen yang masuk. Prinsip pembakaran agar tempurung menjadi arang adalah usahakan tidak ada oksigen dari luar yang masuk ke media pembakaran sebab jika udara atau oksigen masih masuk membuat peluang tempurung menjadi abu semakin besar. Selain mengurangi jumlah arang atau karbon yang dihasilkan, pembakaran yang tidak sempurna juga membuat kualitas arang yang dihasilkan tidak bagus.

Karenanya,  ketika melakukan penutupan saat pembakaran dapat dimulai dengan menggunakan pelepah batang pisang, kemudian dilapisi dengan karung goni basah dan diakhiri dengan tanah basah sampai asap pembakaran tidak ada yang keluar.

Setelah media pembakaran tertutup sempurna biarkan proses pembakaran terjadi hingga seluruh tempurung terbakar dan menjadi arang. Biasanya proses ini kalau menggunakan drum butuh waktu semalam atau sekitar 12 jam.

Setelah semua tempurung menjadi arang, arang tersebut dikeluarkan dan ditumbuk sampai halus atau setelah ditumbuk diayak sehingga mendapatkan arang tempurung yang halus. Selanjutnya tepung arang dicampur dengan perekat yang terbuat dari tepung kanji/tapioka dengan kadar perekat sebanyak 5 persen dari tepung arang. kemudian adonan dimasukan ke dalam cetakan dari paralon. Setelah selesai pencetakan, arang yang telah menjadi briket itu dijemur dua sampai tiga hari. Briket yang telah kering sudah bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Ditambahkan Aisman, untuk membuat briket tersebut  kini juga telah tersedia alat alat yang dibutuhkan untuk membuat briket seperti alat penepung arang, alat pencetak, termasuk alat pembuat asap cair sebagai hasil lain dari tempurung kelapa.**

** TA-PMD Kab Agam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar